Pustaka
| Kinerja Usaha thn 2007 |
|
Perkembangan Pembiayaan Selama tahun 2007, perseroan telah memberikan persetujuan pembiayaan sebesar Rp 63,2 milyar Perusahaan Pasangan Usaha (PPU), dengan komposisi PPU baru sebesar Rp 14,7 milyar dan PPU lama (menambah outstanding yang ada) sebesar Rp 48,5 milyar. Sepanjang tahun 2007 pengembalian pokok pembiayaan PPU lama mencapai Rp 57,6 milyar. Dalam upaya untuk mempertahankan PPU lama yang masih memiliki prospek usaha yang bagus, maka pada tahun 2007 perseroan memberikan porsi pembiayaan PPU lama lebih besar dibandingkan dengan PPU baru.
Sumber Pendanaan Sumber dana perseroan terdiri dari Dana Sendiri (ekuitas), Pinjaman JEXIM, Pinjaman PT Bahana Arta Ventura (BAV) dan PKBL (executing) PT Bank Ekspor Indonesia (BEI). Dana yang dikelola sampai dengan akhir tahun 2007 terdiri dari Dana Sendiri (Ekuitas) sebesar Rp 32,2 milyar, Pinjaman Jexim sebesar Rp 16,6 milyar, Pinjaman BAV sebesar Rp 9,9 milyar, dan PKBL (executing) BEI sebesar Rp 1,8 milyar. Sehingga jumlah dana yang dikelola sampai dengan akhir tahun 2007 sebesar Rp 60,5 milyar. Jumlah dana tersebut mengalami penurunan sebesar Rp 2,6 milyar dibandingkan pada akhir tahun 2006 sebesar Rp 63,1 milyar. Penurunan tersebut disebabkan pengembalian Pinjaman Jexim dan BAV pada tahun 2007 masing-masing sebesar Rp 5,6 milyar dan Rp 2,1 milyar, meskipun di sisi lain terdapat kenaikan ekuitas sebesar Rp 3,3 milyar dan adanya dana PKBL (executing) BEI sebesar Rp 1,8 milyar. Sumber dana terbesar yang dikelola oleh perseroan adalah Ekuitas. Sedangkan pinjaman dana JEXIM semakin tahun semakin menurun. Sampai dengan akhir tahun 2007 dana yang dikelola sebesar Rp 16,6 milyar dari Rp 58 milyar pada tahun 2000. Dengan semakin berkurangnya sumber dana yang dapat dikelola, maka berakibat pendapatan perseroan akan semakin berkurang. Untuk mengatasi hal tersebut maka perseroan berusaha mencari sumber dana pembiayaan baru. Strategi yang ditempuh antara lain : · Mempertahankan pinjaman dari PT Bahana Artha Ventura. Pinjaman sebesar Rp 2,5 milyar yang seharusnya jatuh tempo pada akhir tahun 2007 diperpanjang sampai dengan akhir tahun 2008. · Melakukan pembiayaan sindikasi dan asset sales dengan PMVD lain, sehingga perseroan akan mendapatkan “fee based income”. Pada tahun 2006 dan 2007 dana PMVD yang berhasil diserap melalui mekanisme pembiayaan sindikasi masing-masing adalah sebesar Rp 7,5 milyar dan Rp 4,4 milyar, dengan outstanding rata-rata sebesar Rp 9,639 milyar. Pada tahun 2007 perseroan melakukan transaksi asset sales dengan BAV sebesar Rp 10 milyar dan pada tahun yang sama telah dibeli kembali oleh perseroan. · Perseroan berupaya mencari sumber dana lain dengan mengajukan kerjasama kemitraan kepada beberapa BUMN melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang dimiliki. Dengan kerjasama tersebut diharapkan perseroan memperoleh tambahan dana untuk disalurkan kepada KUKM dan Koperasi, baik melalui pola chanelling maupun executing. Pada tahun 2006 dan 2007 telah terealisasi kerjasama dengan PKBL – BEI berupa penyaluran dana PKBL dengan pola chanelling dan executing. Untuk pola chanelling telah terealisasi sebesar Rp 1,188 milyar dengan outstanding per 31 Desember 2007 sebesar Rp 1,030 milyar. Sedangkan untuk pola executing telah terealisasi sebesar Rp 1,955 milyar dengan outstanding per 31 Desember 2007 sebesar Rp 1,805 milyar.
Non Performing Loan Non Performing Loan pada akhir tahun 2007 adalah sebesar Rp 1,9 milyar atau 3,25% untuk NPF kotor (gross NPF) dan 1,18% untuk NPF bersih (net NPF) dari outstanding investasi sebesar Rp 59,9 milyar. Dibandingkan dengan NPF tahun 2006 sebesar Rp 678 juta dari outstanding investasi sebesar Rp 61,6 milyar atau 1,09% untuk NPF kotor dan 0% untuk NPF bersih, NPF mengalami kenaikan. Namun selama kurun waktu 5 (lima) tahun sejak tahun 2003, perseroan telah berhasil menurunkan NPF secara signifikan dari Rp 4,2 milyar atau 8,05% untuk NPF kotor dan 4,75% untuk NPF bersih pada tahun 2003, menjadi Rp 1,9 milyar atau 3,25% untuk NPF kotor dan 1,18% untuk NPF bersih pada tahun 2007.
Portfolio Pembiayaan Untuk menekan resiko akibat ketidakpastian kondisi ekonomi di Indonesia, maka perseroan berusaha untuk memilih pembiayaan pada PPU yang mempunyai prospek usaha dengan resiko relatif kecil atau paling terakhir terkena dampak perubahan kondisi perekonomian nasional. Perseroan secara berkala mengkaji dan mengamati perkembangan usaha secara nasional maupun regional secara mendalam, baik kepada PPU yang telah dibiayai maupun dengan menggali informasi yang didapat melalui jaringan yang ada pada PPU.
|
